EXECUTIVES BRIEFING on Creating 5S Culture

to get the same perception and commitment from top management and all levels of leadership to support the successful of 5S company-wide

Improving Productivity and Raising Work Efficiency through KAIZEN 5S

to get a provision to begin the 5S implementation likewise to improve the quality of the 5S application currently being implemented

Organizing 5S in the OFFICE, how to make it 'Faster – Better – Easier – Cost-Effective'

to improve the quality of service and to eliminate the non value-added activities in the office

5S in LABORATORY: for better Service Quality

to improve quality through greater visibility of mistakes and increased productivity

5S for Maintenance WORKSHOP and STORE: advance towards Maintenance Excellence

to eliminate sources of contamination and freeing up time for pro-active maintenance

5S at your WAREHOUSE: Improvements to Boost Efficiency

to satisfy the customers' needs and requirements while utilizing space, equipment, and manpower effectively

5S Internal AUDIT : Raising the Quality of Implementation

to conduct a systematic audit and to prepare for the implementation of company-wide 5S audit program

5S DIAGNOSIS : A Picture of Our Workplace at Current State

to collect data and actual facts in the shopfloor to facilitate management in setting priorities for improvement

ADVANCED 5S : Take 5S To The Next Level

to introduce several techniques from other disciplines to make work easier, faster, safer and more efficient

"No!" Engineer


Jenis Engineer yang satu ini adalah seseorang yang paling terlihat sepertinya sangat sibuk namun sebenarnya ia tidak mengerjakan apa-apa. Ia berpolitik di tempat kerjanya. Selalu berusaha mempertahankan kondisi status quo. Hampir berada di setiap pertemuan, banyak berbicara namun ketika ditugaskan, ia selalu menghindarinya dengan mengatakan "saya sudah terlampau sibuk". Setiap ada usulan perbaikan kepadanya ia selalu merespon di dalam kalimat pertama yang dilontarkannya adalah "Tidak bisa!" Walaupun ia berusaha menerimanya dengan mengatakan "Ya" namun selalu dibarengi kata berikutnya "Tetapi..."

Ia selalu mencari celah dengan beralasan bahwa usulan-usulan perbaikan tersebut tidak dapat diaplikasikan di tempat kerjanya. Respon yang paling parah adalah ketika iya mengatakan  "Hmnn... Itu bagus di tempat lain tetapi tidak bisa di tempat saya". Banyak berdebat namun tidak ada hasilnya. Hanya membuang-buang waktu berdiskusi dengannya. Engineer seperti ini saya sebutnya sebagai "No!" Engineer.
 
Orang lain atau bawahannya apabila setelah berhadapan dengannya menjadi kesal, murung, tidak bersemangat, selalu merasa tidak mendapatkan solusi atau pencerahan. Bawahan tidak mendapatkan keputusan darinya, justru ia mendapatkan pekerjaan tambahan lainnya. Engineer ini disebut juga sebagai Energy Taker.

Sebaliknya disebut sebagai Energy Giver, ketika orang lain atau bawahannya setelah berhadapan dengannya merasa mendapatkan solusi dari permasalahannya di pekerjaanya. Orang-orang di sekelilingnya menjadi bersemangat, antusias berada di kelompok kerjanya. Seseorang seperti ini saya sebut sebagai The Real Shopfloor Engineer atau KAIZEN Engineer.

“Without accepting the fact that everything changes, we cannot find perfect composure. But unfortunately, although it is true, it is difficult for us to accept it. Because we cannot accept the truth of transience, we suffer”
Shunryu Suzuki

Cakrawijaya 5R - December 01, 2013

Table Engineer

Table Engineer

Ia banyak menghabiskan waktu kerjanya berada di belakang meja. Terperangkap di meja kerja, meja komputer, meja di ruang pertemuan dan meja-meja yang lainnya, Apabila terjadi masalah, ia cenderung membahasnya di meja kerjanya. Lebih senang memanggil bawahannya untuk datang ke ruang kerjanya dibandingkan ia menghampiri bawahannya untuk melihat sendiri permasalahan yang dihadapi oleh bawahannya. Diskusi-diskusi dilakukannya di meja pertemuan. Tidak ada waktu untuk melihat sendiri apa yang sedang terjadi di tempat kerja sesungguhnya atau shopfloor. Setiap hari ketika hadir di tempat kerjanya, ia pun langsung menuju ke meja kerjanya tanpa meyempatkan diri untuk mengunjungi shopfloor. Lawan jenis dari Engineer ini saya sebut sebagai The Real Shopfloor Engineer atau KAIZEN Engineer.

“Data is of course important in manufacturing, but I place the greatest emphasis on facts”
Taiichi Ohno

Cakrawijaya 5R - December 01, 2013

Catalog Engineer

Catalog Engineer

Engineer ini banyak ilmunya namun cenderung "ngelmu". Asik mencari ilmu buat dirinya, senang belajar teori atau konsep. Banyak ilmu namun tidak membagikan ilmunya,  cenderung hanya untuk dirinya. Khawatir jika ilmunya dibagikan ia akan kehilangan kemampuannya dan kehilangan posisinya di organisasi. Senang belajar, banyak membaca buku, mengikuti pelatihan, seminar, dll. Banyak gelar akademis yang disandangnya. Ahli teori dan konsep, sebagai tempat bertanya, mengetahui berbagi konsep namun tidak mampu mengimplementasikan konsep tersebut ke dalam pekerjaannya.

Guru yang tidak menerapkan apa yang telah diajarkannya. Lawan jenis dari Engineer ini adalah ia yang ahli dalam mempraktekan teori dan konsep-konsep di dalam pekerjaan sehari-harinya. Ia disebut sebagai The Real Shopfloor Engineer atau KAIZEN Engineer.

“Information is not knowledge, the only source of knowledge is experience” - Albert Einstein

Cakrawijaya 5R - December 01, 2013

Shopfloor Engineer

KAIZEN (Real Shopfloor) Engineer

Engineer ini adalah jenis yang paling sedikit bahkan cenderung langka. Ia adalah lawan jenis dari empat jenis engineer sebelumnya. Sibuk dan berorientasi di shopfloor bukan di meja kerjanya. Banyak ilmunya yang diterapkan di shopfloor. Ia senang berbagi ilmu, menurutnya dengan berbagi ilmu ia justru akan menjadi lebih mudah di dalam pekerjaannya.

Orang lain atau bawahan selalu merasa terbantu, tercerahkan dan menjadi bersemangat setelah berhadapan dengannya. Ada keceriaan, rasa bangga dan memiliki di dalam kelompok kerjanya. Mencerdaskan dan memintarkan bawahnya. Kerja dirasakan semakin "santai", semakin mudah bukan sebaliknya semakin dipusingkan dengan masalah-masalah yang muncul sehingga pulang larut. Banyak waktu untuk berbagi ilmu.

Prinsip waktu di dalam pekerjaannya adalah hadir tepat waktu pulang pun harus tepat waktu, tidak ada keterlambatan. Keseimbangan waktu antara pekerjaannya dengan keluarganya. Sukses di tempat kerja juga harus dibarengi dengan sukses di dalam kehidupan pribadinya.

Organisasinya mengalami kemajuan secara terus menerus. Selalu menyambut baik terhadap usulan-usulan yang muncul dan merasa tertantang dengan masukan-masukan tersebut yang dianggapnya sebagai peluang untuk maju. Melihat sesuatu dari sudut pandang positif. Setiap hari menghasilkan 1 improvement di unit kerjanya. Apabila setiap hari ia terbiasa menghasilkan minimal sebuah improvement maka ia mendapatkan predikat yang disebut sebagai DR KAIZEN atau Doktor Improvement.

“Strive for continuous improvement, instead of perfection” - Kim Collins

Cakrawijaya 5R - December 01, 2013

MUCHI - MUSHI - MUDA - MURA - MURI

MUCHI 無知 - Ketidaktahuan

ketidaktahuan atau kurangnya pengetahuan.

MUSHI 無視 - Pengabaian

pengabaian, ‘kebodohan’ atau perilaku buruk.

MUDA 無駄 - Pemborosan

aktivitas pemborosan dan tidak menambahkan nilai atau tak produktif.

MURA 斑 - Tidak merata atau tidak teratur

tidak merata, ketimpangan, keragaman, tidak konsisten terhadap zat material atau keadaan rohani manusia.

MURI 無理 - Membebani Berlebihan

terlalu membebani, keterpaksaan atau melampaui ambang batas.

Cakrawijaya 5R - November 30, 2013

MUCHI 無知 - Ketidaktahuan

無知

MUCHI - Ketidaktahuan


MUCHI, terminologi umum bahasa Jepang yang berarti ketidaktahuan atau kurangnya pengetahuan profesional.

Tidak bertanya atau klarifikasi adalah MUCHI Ketidaktahuan adalah suatu keadaan kekurangan informasi (kurangnya pengetahuan). Perkataan ‘bodoh’ adalah kata sifat yang menggambarkan seseorang dalam keadaan tidak menyadari dan sering digunakan sebagai suatu ‘penghinaan’ untuk menggambarkan seseorang yang dengan sengaja melakukan pengabaian atau mengabaikan informasi atau fakta yang penting.

Ketidaktahuan dibedakan dari kebodohan, meskipun keduanya dapat mengakibatkan tindakan yang ‘tidak bijaksana’.

Ketidaktahuan bisa menahan kegiatan belajar, terutama jika ‘orang bodoh’ percaya bahwa mereka itu tidak ‘bodoh’. Seseorang yang keliru terhadap keyakinannya, ia dengan pengetahuannya yang seadanya tidak akan berusaha mencari klarifikasi atau memastikannya, melainkan hanya bergantung pada posisi ‘kebodohan’nya. Ia juga mungkin menolak informasi yang valid namun sebaliknya, tidak menyadari betapa pentingnya informasi tersebut atau tidak memahaminya.

Pekerjaan-pekerjaan baru seharusnya melalui program pendidikan tentang pengetahuan dasar dan karakter, perilaku bagi masyarakat dan kebudayaan.

"Dimulai dari setiap individu berlatih memperhatikan lingkungan tempat kerjanya hingga terbiasa memperhatikan hal yang kecil-kecil pada akhirnya mereka menjadi jatuh hati pada tempat kerjanya. Ini tercermin dari perilakunya menjadi peduli terhadap keadaan di sekeliling tempat kerjanya".

Memberikan pelatihan dan menciptakan hasrat belajar di setiap anggota kelompok kerja akan memperkaya para anggotanya dengan pengetahuan sehingga menjadi lebih bijak di dalam bertindak.

“Lack of knowledge - that is the problem” - W. Edwards Deming

Cakrawijaya 5R - November 29, 2013

MUSHI 無視 - Pengabaian

無視

MUSHI - Pengabaian


MUSHI, terminologi umum bahasa Jepang yang berarti pengabaikan, ‘kebodohan’ atau perilaku buruk.

Membiarkan lantai kotor adalah MUSHI Terbiasa memperhatikan hal-hal yang kecil yang ada di lingkungan sekitar kita adalah suatu permulaan.

Ketika kita sudah mengetahui keadaan yang seharusnya namun membiarkannya dalam keadaan yang tidak sesuai adalah suatu sikap pengabaian.

Tidak peduli, sengaja melalaikan adalah perilaku buruk yang tersembunyi. Bentuk lain dari pengabaian adalah kita tidak mencintai apa yang berada di sekeliling kita atau secara harfiah adalah "tidak berbuat sesuatu" atau tidak acuh biasa disebut “cuek”.

"Seseorang harus berlatih untuk peduli yang masuk akal ketika ia bertindak dengan mempertimbangkan potensi bahaya bahwa ia mengetahui hal yang akan mencelakakan orang lain".

Pengabaian adalah sumber masalah tersembunyi yang sangat berbahaya, karena biasanya ketika diketahui ternyata sudah terlambat.

Sebelum situasinya menjadi sangat sulit setiap orang kebingungan dalam menentukan tindakan pencegahan terhadap kesalahan lainnya.

"Our trouble is not ignorance, but inaction" - Dale Carnegie

Cakrawijaya 5R - November 28, 2013

W e l c o m e !

"Terima kasih, Anda telah berada di beranda rumah Shopfloor Improvement Specialist , disinilah tempat berbagi pengetahuan & pengala...